Raka dan Lailatul Qadr Buruannya.
Malam itu masjid di pesantren makin ramai, bersamaan dengan datangnya 10 malam terakhir bulan ramadhan. Seluruh santri yang biasanya sudah bergegas tidur sehabis tarawih, kini seperti enggan beranjak dari masjid. Mereka melanjutkan malam dengan membaca AlQur'an, sambil menunggu kantuk datang menyerang.
Di shaf belakang, ada ustadz Rama. Salah seorang guru muda di pesantren ini yang suka sekali seni beladiri, membuat film, memanah dan berkuda. Ustadz Rama yang sedang asik membaca Al-Qur'an, menghentikan tilawahnya ketika melihat Raka, salah satu santri halaqohnya di shaf agak depan yang nampak bengong kebingungan. Tanpa lama-lama, ustadz Rama langsung menghampirinya.
"Raka" Panggil ustadz Rama pada santrinya itu. "Raka baik-baik aja kan? Dari tadi ustadz liat kamu lebih banyak diem daripada zikir atau baca Qur'an. Apa ada yang lagi kamu pikirin Raka?"
Raka sedikit kaget lalu tersadar dari lamunannya. "Eehh ustadz Rama. Ngga ustadz, Raka baik-baik aja kok. Cumaa..."
"Cuma apa Raka?"
Ustadz Rama kembali bertanya sambil menatap Raka dengan senyum khasnya.
"Cuma ini ustadz, dari tadi Raka mikir, gimana ya cara kita bisa ketemu malam Lailatur Qadr? Soalnya rama belum pernah ketemu malam Lailatul Qadr ustadz".
Ustadz Rama menaruh tangannya di pundak Raka, menepuk pelan sambil menjawab.
"Ooh itu yang Raka pikirin dari tadi. Pantes ustadz liat Raka bengong aja"
"Hehe, iya ustadz"
"Jadi gini Raka. Malam lailatul Qadr itu kan ada di 10 malam terakhir ramadhan ya?".
"Iya ustadz". Jawab raka menyergah
"Nah, tapi kita ngga tau tuh Lailatul Qadr ada di malam yang ke berapa. Cuma Allah yang tau. Jadi tugas kita, bukan nebak-nebak di malam ganjil keberapa malam itu datang".
"Terus, gimana cara kita ketemu malam itu ustadz?"
"Loh. Kita ketemu terus lho Raka dengan malam Lailatul Qadr setiap bulan Ramadhan". Jawab ustadz Rama antusias. Raka kini keliatan makin bingung. Lucu juga raut wajah seorang anak kelas 1 SMP kalau sedang penasaran.
Ustadz Rama melanjutkan. "Jadi setiap Ramadhan, malam Lailatul Qadr itu selalu datang. Malam, yang nilainya lebih besar dari beribadah selama seribu bulan. Malam itu menemui kita bahkan semua manusia di bumi. Tapi, yang membedakan adalah, apa yang sedang kita lakukan ketika malam itu datang. Sedang sholat tahajjudkah, sedang baca AlQur'ankah, sedang zikirkah, sedang istirahat santai-santaikah, atau malah kita sedang lalai. Amal kita di malam itu yang akan membedakan".
Raka manggut-manggut tanda mengerti. Raka mulai paham bahwa ini bukan soal mencari-cari mana yang malam Lailatul Qadr dan mana yang bukan. Bukan menebak-nebak malam inilah yang Lailatul Qadr, lalu malah lesu di malam-malam yang lain. Tapi justru intinya, 10 hari terakhir ramadhan ini adalah kesempatan kita untuk beribadah secara maksimal. Bukankah seluruh hari-hari ramdhan sudah mulia sejak semula? Lalu apa pantas malah lesu di hari yang dikira tidak ada Lailatul Qadrnya? Tiba-tiba, Raka juga ingat cerita Kyai beberapa hari yang lalu. Bahwa Rasul saw., di 10 hari terkahir bulan ramadhan mulai mengencangkan ikat pinggang dan memperbanyak ibadah sampai akhir ramadhan.
"Raka" panggil Ustadz Rama yang melihat Raka malah diam.
"Iya ustadz" Raka lagi-lagi tersadar dari lamunannya. Dari lamunannya yang suka lari kemana-mana.
"Jadi sekarang Raka udah tau kan apa yang harus Raka lakukan?"
"Iya tau ustadz. Siap, paham! Hehe" Jawab Raka dengan wajah sumringah dan penuh semangat.
"Oke sip" kata ustadz Rama sambil berlalu untuk kembali ke shaf belakang melanjutkan tilwahnya.
"Oiya, makasi ustadz!" Seru Raka agak kencang pada ustadz Rama yang sudah berlalu jalan.
بارك الله فيك يا استاذ
BalasHapusوفيكم بارك الله
Hapus