Bisakah Kita Bertahan?
"Na, menurut kamu bisa ngga kita bertahan? Bisa ngga kita tetap menjadi kita walau jarak memisahkan?" Ucap Tiyo pada Arina ketika bertemu di kafe tempat mereka pertama kali mengikat rasa, sehari sebelum keberangkatannya ke Kuala Lumpur.
Arina tampak gugup. Hening. Arina belum menjawab, ia justru kembali meminum es kopi kesukaannya untuk yang kesekian kali."Na". Seru Tiyo yang menunggu jawaban.
"Oh, iya Yo?" Kata Arina masih sedikit gugup.
"Gimana menurut kamu Na soal huhungan kita? Kamu yakin kan kita bisa bertahan?"
Sepersekian detik berlalu. Arina menatap mata Tiyo untuk menjawab. "Yo, sebenarnya di titik ini aku justru ingin mengakhiri" kini Arina tak berani lagi menatap mata Tiyo. Membayangkan raut wajah Tiyo yang pasti kaget akan membuat ia merasa bersalah. Walau di sisi lain, Arina juga merasa lega.
Benar saja. Tiyo terkejut mendengar jawaban singkat Arina. "Na? Apa kamu kira perasaan kita ngga cukup kuat untuk melawan jarak? Bukannya selama ini kita udah beberapa kali melewati momen semacam ini. Kamu ingetkan.. ketika 2 tahun lalu kamu harus pergi ke Jepang 3 bulan untuk pertukaran pelajar? Bukannya waktu itu kita bisa jaga hubungan kita untuk tetap baik-baik aja?".
"Bukan Yo..." Suara Arina mulai pelan. "Buatku, ini bukan lagi tentang jarak. Tapi ini tentang ikatan kita Yo. Ikatan kita yang menurutku memang ngga pantas lagi untuk dipertahankan".
"Kenapa gitu?" Sahut Tiyo masih heran.
"Bukannya yang halal saja bisa runtuh karena jarak Yo? Apalagi kita". Jawab Arina lagi. Kali ini setetes air bening jatuh mengaliri pipi Arina. "Yo..." Arina coba melanjutkan walau sesenggukan. Suaranya parau. "Aku memang sayang sama kamu. Tapi, aku ngga mau kita jadi dua manusia yang bersama tanpa sucinya hubungan. Aku ngga mau, perasaan diantara kita berdua justru ngebuat aku dan kamu makin menjauh dari cinta-Nya. Aku ngga mau Yo".
Tiyo tak mengira bahwa Arina bisa berpikir begitu. Tiyo merasa ini adalah jawaban dari kecurigaanya soal Arina yang terasa berbeda akhir-akhir ini. Kalau sudah begini, mau gimana lagi. Pikir Tiyo.
"Lalu Na, apa yang kamu mau?"
"Mari kita berpisah Yo. Semoga Allah mengampuni aku dan kamu. Semoga Allah memaafkan kesalahan kita di masa lalu"
Hening. Arina sedih sekaligus lega, dan Tiyo masih kecewa juga tidak tau harus berkata apa.
Komentar
Posting Komentar