Malam sebelum mati
Tanpa minum dan makan, tanpa susu dari induknya.
Berhari-hari sudah bayi kucing imut itu mengeong dan berjalan tanpa arah tujuan. Mungkin ia mencari ibunya, tapi matanya sulit terbuka, tertutup rapat oleh kotoran yang harusnya dibersihkan dengan jilatan kasih sayang ibunya.
Kubersihkan mata itu dengan handuk basah. Sesekali matanya terbuka. Badannya tampak menggigil karena terkena air dari handuk yg basah. Kulap dengan sisi lain handuk agar kering. Ku beri air seakan tak mau. Kuberi susu juga tak diminum.
Saat kutulis ini, tiba-tiba ia berhenti mengeong dan berhenti berjalan. Tampak asik belajar "menjilat" bulu-bulunya, juga sesekali menggaruk kepala dengan kaki belakangnya.
Berhari-hari ku tau ia belum minum dan makan kecuali air yang kupaksa masuk dalam mulutnya. Sesekali tubuhnya bergetar hebat seperti sekarat.
Ia bukan bayi kucing yang pertama kali. Beberapa kal bayi kucing tiba-tiba ada di koridor asrama tanpa induk. Bayi kucing yang sebelumnya sudah mati, terkapar tanpa daya hanya untuk mengeluarkan suara.
Disisi kirinya kini aku duduk menulis. Ia mulai tertidur dilantai, menolak sebuah kardus dengan handuk yang tadi kusiapkan.
Dua hal yang sangat kutakutkan. Membayangkan hatinya yang tersiksa keadaan, dan bagaimana hebatnya lapar yang ia rasakan.
________________
Asrama kampus IUA, tengah malam
17 September 2020
Dalam tulisan ini saya belajar, arti kasih sayang seorang manusia pada hewan hewan. Sesama makhluk ciptanNya..
BalasHapusAllah SWT ❤
Iya ni. Masih bingung juga cara nanganin anak kucing yg tanpa induk.
BalasHapus