Postingan

Ketertinggalan

 Hari ini ujian mata kuliah syariah semester dua berjalan dengan kurang memuaskan. Banyak soal yang masih asing untuk saya temuin jawabannya. Sempet ngobrol sama temen yang kurang lebih gini isinya. "Menurut saya sebenernya isi pelajarannya umum dan dasar. Coba aja pake bahasa indonesia, kayaknya bakal lebih mudah. Soalnya saya lemah di mufrodat." Dia nanggepin dengan ketawa kecil dan satu kalimat. "Kalo yg ane liat, masih kurang juga di penerjemahan kalimat. Itu butuh nahwu wa shorf." Kalimat temen saya ini bener-bener terngiang dan jadi renungan. Saya jadi mengiyakan bahwa memang setahun di sudan ini saya belum maksimalin belajar ilmu-ilmu dasar. Nahwu, shorf dan penambahan mufrodat saya masih lemah. Selama ini mikir untuk fokus dulu ke hafalan AlQur'an tanpa ikut dars-dars masyayikh. Setahun berlalu, hafalan belum maksimal dan ilmu nahwu shorf pun jauh ketinggalan. Malem ini kepikiran, bahwa seharusnya itu semua bisa dijalani beriringan. Toh selama ...

Selalu berujung kebaikan

Gambar
Pagi ini Allah ingetin dengan satu kejadian, bahwa interaksi dengan AlQur'an selalu berujung kebaikan. Beberapa waktu mulai ngurangin interaksi dengan AlQur'an. Dengan dalih mengembangkan waktu untuk hal² lain. Waktu berlalu, ternyata pikiran itu agaknya dateng dari syaitan dan hawa nafsu. Bukannya makin produktif dengan ngelakuin hal lain, rutinitas justru kacau dengan banyaknya rebahan dan scroll layar di genggaman tangan. Pagi ini nyoba balik ke rurinitas sebelumnya. Ngawalin hari dengan interaksi sama AlQur'an. Huh. Tetiba bisa ngerasain lagi tenang dan mood bagus yang lama hilang. Setelah beberapa lama, ngaji ditutup dengan "Sodaqallohul adzim". Jalan balik ke kamar, ketemu temen orang Afghanistan yang kebetulan lagi bawa saffron. Kita ngobrol satu dua hal. Selesai ngobrol saya beranjak pergi, di depan pintu kamar dia panggil, "Yusuf, ini saffron buat kamu". Sempurna. ALLAH tutup kebaikan-Nya pagi ini dengan kejutan yang diluar dugaan. Akhirnya ...

Sepotong pemandangan manis di pasar Sudan

Di Sudan, kita akan mudah menemukan tikar-tikar yang digelar ditengah pasar. Atau juga sebuah bilik sederhana dari daun-daun kering dan beralas tanah. Tidak lain, tikar dan bilik itu adalah tempat sholat yang digunakan para penjual dan pembeli yang sedang bermuamalah. Ketika adzan berkumandang dari masjid yang berjarak cukup jauh dari pasar, para pedagang dan pembeli satu persatu mendekati tikar-tikar. Berwudhu dengan botol berisi air yang sudah tersedia. Saya juga belum tau siapa yang mengisi botol-botol itu. Yang jelas, siapa yang mau berwudhu tinggal pakai air itu. Tidak ada yang menjaga apalagi yang menarik uang bayaran. Sholat segera dilaksanakan. Berjamaah di tengah hiruk pikuk kebisingan. Karena tempat yang terbatas, maka sholat berjamaah dilakukan bergiliran, bergantian sampai selesai. Suatu pemandangan yang menyejukkan mata juga hati. Di tengah pasar yang sangat sederhana, ada hati manusia yang selalu mengingat tuhannya. *karena satu dan lain hal, gambar belum berhasil kami se...

Malam sebelum mati

Tanpa minum dan makan, tanpa susu dari induknya. Berhari-hari sudah bayi kucing imut itu mengeong dan berjalan tanpa arah tujuan. Mungkin ia mencari ibunya, tapi matanya sulit terbuka, tertutup rapat oleh kotoran yang harusnya dibersihkan dengan jilatan kasih sayang ibunya. Kubersihkan mata itu dengan handuk basah. Sesekali matanya terbuka. Badannya tampak menggigil karena terkena air dari handuk yg basah. Kulap dengan sisi lain handuk agar kering. Ku beri air seakan tak mau. Kuberi susu juga tak diminum. Saat kutulis ini, tiba-tiba ia berhenti mengeong dan berhenti berjalan. Tampak asik belajar "menjilat" bulu-bulunya, juga sesekali menggaruk kepala dengan kaki belakangnya. Berhari-hari ku tau ia belum minum dan makan kecuali air yang kupaksa masuk dalam mulutnya. Sesekali tubuhnya bergetar hebat seperti sekarat. Ia bukan bayi kucing yang pertama kali. Beberapa kal bayi kucing tiba-tiba ada di koridor asrama tanpa induk. Bayi kucing yang sebelumnya sudah mati, terkapar tanpa...

Anak² Suriah, saudara atau hanya Musa'adah?

Di Sudan, satu hal baru yang kita temukan. Hampir di seluruh sudut tempat akan ada peminta-minta, yang disini disebut Muasa'adah. Dari banyaknya musa'adah Sudan, nggak jarang juga kita lihat musa'adah dengan kulit agak putih, dengan hidung mancung. Ya, mereka adalah Musa'adah Suriah. Dari ibu-ibu, juga banyak anak² kecil Suriah. Baju mereka lusuh, kulitnya kusam penuh debu dengan rambut yang jarang terjamah air apalagi shampo. Menengok beberapa tahun kebelakang, jauh sebelum kita berada di Sudan. Kita pernah menggaungkan satu hastag yang amat viral, #SaveAleppo. Hastag yang kita gaungkan dengan lantang. Dengan caption "saudara muslim" untuk menyebut rakyat Suriah yang kita sayang. Dengan penuh rasa iba kita klik tombol posting untuk menyuarakan keadilan bagi mereka rakyat Suriah. Hari ini, di tanah Sudan ini, Allah pertemukan kita dengan mereka. Secara langsung. Tidak lagi berupa foto mereka di layar HP kita. Tidak lagi suara tangis mereka di galeri HP kit...

ABI. Cinta tanpa tepi, pengorbanan tanpa henti.

"Bi, aku mau cerita dikit ya?" "Iya, gimana?" "Jadi aku selama di Sudan 1 tahun ini sering sungkan untuk minta kiriman. Aku pikir udah cukup dewasa untuk mandiri, sampe mikir apa harus kerja biar ga minta kiriman lagi." "Kamu cerita aja apa yang kamu butuhin. Orangtua itu malah seneng kalau ngirim uang ke anaknya. Kan Abi mau juga dapet pahala jariyah dari menuntut ilmu kamu. Abi berpikir, kamu itu disana udah fokus belajar aja. Kayak Ustadz Abdul Somad sampe S2 terus lanjut S3. Selama Abi masih nanyain kebutuhan, kamu jawab apa adanya. Abi sanggup kalau untuk pendidikan anaknya." Sebuah potongan dari obrolan 30 menit yang cukup panjang. Makasih Bi. Hari ini Abi berhasil memenangkan hatiku, ngebuat aku makin yakin bahwa Abi dan Umi adalah sosok yang paling harus aku perjuangin kebahagiaannya. Makasih Bi. Hari ini Abi berhasil menenangkan gelisah, risau dan banyak perdebatan batinku. Hari ini dan selamanya, Abi jadi teladan nyata. Dengan ...

Nasehat terbaik dari Rofid.

 Ada yang datang dengan pasti, menjemputmu hari ini. Hari ini duka hadir terlalu tiba-tiba. "Balik ke Sudan nggak Fid?" "Ntar liat dulu. Kalau kuliah mulai lagi, insyaallah balik." Fid, hari ini kuliah mulai Fid. Ini hari yang harusnya bawa kamu balik ke Sudan. Hari bahagia kembalinya harapan kita. Mimpi-mimpi kita semua. Berangkat ke halaqoh-halaqoh, mulazamah dengan masyayikh, diskusi lagi untuk ngadain dars, tidur di taman kampus, jalan² ke afra, banyak lagi. Fid. Setelah sekian jam berita wafat kamu, baru di detik ini air mata saya netes. Jatuh perlahan menggenang di kelopak mata. Fid. Fid. Rofiddd!!. Kapan lagi panggilan saya bakal bisa kamu bales? Berkali-kali proses menulis ini harus terjeda, karena tangis tetiba hadir begitu hebatnya. Bersama airmata tanpa hingga, saya teruskan kalimat ini dengan paksa. Fid. Tangis ini belum bisa berenti. Justru makin jadi. Mulut saya tercekat tanpa ucap, hanya ada suara tangis yang membuat seisi rumah meneng...