Obrolan pagi dan sepeda hilang


 "Sup"
panggil bang shofin pagi tadi, kakak kelas saya di Sudan yang sedang mengerjakan tugas organisasinya di laptop saya. "Ente tau nggak gimana cara kita ngecek apakah kita cinta dunia atau nggak?"


"Hmm. Belum tau tuh." Jawab saya. Bang Shofin dengan senyum tipisnya yang khas bersiap untuk menjawab, tapi saya memotong karena baru menemukan jawaban. "Eh bentar bang. Kayaknya ane pernah tau satu kaidah. Kecintaan kita ke dunia bisa diliat pas kita keilangan barang yang kita suka."

Mendengar jawaban saya, bang Shofin tiba-tiba mengangkat laptop saya dan beradegan seolah ingin menghantamkan laptop saya ke dinding. Dengan senyum tipis saya menyergah "nggak gitu juga hehe."

"Kan ane mau tes ente hahaha" tutupnya dengan senyum tipis dan melanjutkan kerjaannya di laptop saya.

Obrolan berlanjut ke beberapa hal lain sampai saya bersiap-siap pergi ke acara di Sekretariat PPI Sudan. Teman saya, bang April, sudah menunggu saya di bawah untuk berangkat bersama. Oiya. Saya tinggal di sebuah bangunan berlantai 4, dan tempat tinggal saya ada di lantai teratas.

Sampai di bawah, saya menuju pintu gerbang. Tapi rasanya ada yang mengganjal. Saya melihat sekeliling sambil bergumam "Apa yang aneh ya?"

"Allahuakbar" seru saya setengah berteriak. Sepeda hilang. "Bang April, sepeda ane ilang." "Hah ilang beneran? Semalem masih ada nggak" "nggak tau bang. Semalem ane balik dari luar jam 11an dan ga begitu perhatiin sepeda."

Saya kembali ke tempat dimana sepeda saya biasa disimpan. Gembok masih ada dan terpasang, tapi rantai sudah dirusak maling atau di Sudan biasa disebut haromi.

Saya tersenyum getir. Obrolan pagi tadi dengan bang shofin langsung berkelebat di kepala. Secepat ini Allah menguji kaidah yang kami obrolkan pagi tadi. Lagi-lagi, sambil tersenyum tipis saya bergumam "Qodarullah. Sepeda ilang ya hehe."

Tangan saya bergerak otomatis. Membuka whatsapp dan mengabarkan ke grup penghuni rumah tentang kejadian ini. Saya sertakan foto rantai yang dirusak dan kalimat pendek "Qodarullah sepeda ane ilang"

Usut punya usut. Kata penghuni yang lain, shubuh tadi gerbang memang terbuka dengan kondisi tidak seperti biasa. Tapi tidak ada yang memperhatikan sepeda saya karena penerangan di halaman gedung memang cukup redup.

"Yaudah yok bang berangkat ke PPI." Seru saya ke bang April memecah kekakuan. Bang april tampak masih bingung dan ikut bersimpati dengan kejadian pagi ini.

Sambil berjalan menuju PPI saya menelpon bang Panggi sang ketua komunitas gowes indo-sudan (komunitas pesepeda mahasiswa indonesia di Sudan).

Sampai ini selesai ditulis, obrolan dengan Bang shofin masih terngiang-ngiang di kepala saya.

Komentar

  1. Sepeda

    Hidupku sepedaku
    Mengayuh kemana-mana,
    Dengan sepedaku.
    Jauhku jadi dekatku
    Dengan sepeda menemaniku

    Hanya satu punyaku
    Tak ada yang sama,
    Dengan spedaku.
    Sepedaku, kawan hidupku
    Hari demi hari berlalu
    Sepedaku tetap sepedaku

    Tak terbayangkan,
    Hilang! Mana sepedaku!
    Aku hanyalah aku
    Tak lagi bersama sepedaku

    Semoga Allah memberiku,
    Dengan hilangnya sepedaku,
    Aku dapat baru

    Amiin

    BalasHapus

Posting Komentar